SEBUAH CATATAN TENTANG NACHTMUSIK

oleh Hoshea Himawan

Februari 2017

 

PROLOGUE

Alfian Emir Adytia lahir pada tahun 1992 di Ngawi, Jawa Timur. Cellist asal Indonesia ini aktif berkegiatan di berbagai aliran musik, baik dalam negeri maupun mancanegara. Ia menempuh pendidikan musik secara formal selama 8 tahun, dimulai dari SMM Yogyakarta sejak tahun 2008 kemudian melanjutkan di ISI Yogyakarta. Selama itu, Alfian secara konsisten melukis riwayat kehidupannya sebagai cellist di Asia dan Eropa.

Pada tahun 2013, Alfian bersama rekan proyeknya Gigin “rajin” Sholat meraih penghargaan The Best Performance Prize pada ajang 2013 International Country Music Week di Ziang Jiajie, China. Selain aktif sebagai cellist (musik klasik) di orchestra, musik kamar, maupun solois, Alfian menjelajah lebih luas  wilayah musiknya pada aliran-aliran musik seperti rock, jazz, pop dan folk. Alfian juga aktif sebagai komponis muda, dibuktikan dengan pencapaiannya pada tahun 2015 yang berhasil meraih juara pertama pada ajang kompetisi komposisi dalam rangka 50 Years of Blessing Avip Priatna yang diselenggarakan olhe The Resonanze Studio.

Saya mengenalnya sebagai senior cello yang “hehe”. Kenapa “hehe”? Karena saya selalu tersenyum mengingat pertama kali saya bertemu dengannya. Dia pernah ngerjain saya waktu di SMM dulu. Jelas ga dendam, cuma ya lucu aja. hehe

Tahun 2012, saya murid baru di SMM Yogyakarta. Ketika itu, Bang Alfin sedang mempir ke SMM bermain cello di ruang praktek sebelah dan saya menghampirinya. Saya menontonnya layaknya saya menonton lukisan yang indah, memperhatikan dan terkagum. Keren banget. Sungguh terheran “Ni orang kok bisa gini ya mainnya” mungkin itu yang terlintas di benak saya saat itu.

Setelah satu lagu yang saya lupa lagu apa, saya berkenalan dengannya. Mengobrol dan akhirnya ia mengajak saya mempraktekkan gaya relaksasi tangan pemain cello. Saya mengikuti gerakannya, tangan kanan dari siku hingga ke telapak tangan rileks gerakan ke arah kanan kiri (mungkin bagi kalian yang sedang belajar instrumen gesek boleh mengikutinya sambil membaca tulisan ini). Kemudian tangan kiri, sama dari siku hingga telapak tangan rileks, gerakan ke atas bawah. Lakukan bersamaan. Ini adalah gaya relaksasi sebelum bermain cello yang sangat epektip! (Gaya sunda yang kebanyakan sulit ngomong f)

Kalo saya pikirkan sekarang, “kok gerakannya kaya anak cacat ya, kok saya mau aja ya disuruh gitu”. Ketika itu saya sungguh percaya. Dalam pikiran saya ini sungguh logis untuk membuat tangan menjadi rileks. Saya kembali dari ruang praktek di mana Bang Alfin bermain cello dan kembali ke ruang praktek sebelah sambil terus melatih gerakan baru dari senior saya ini.

Cukup lama saya melatihnya hingga kurang lebih setengah jam. Mungkin ambisi ingin menjadi pemain cello menyaingi Bang Alfin yang membuat saya melakukannya selama itu. Hingga Bang Alfin menghampiri saya. “Hos, kamu ngapain?” Bang Alfin menanyaiku. “Biar rileks mas tangannya” sahutku. Mas Alfin tertawa terbahak-bahak dan bilang “Ya gapapa hos kamu latih begitu, tapi jangan setengah jam gini juga. Malah kaya anak cacat kamu kalo gitu”. Astaga, ternyata dia ngerjain saya. Mungkin dibalik jendela Bang Alfin ngintip sambil nyanyi “tak ada manusia, yang terlahir sempurna” (potongan lirik lagu Jangan Menyerah – D’Masiv). But overall (mencoba gaul), Bang Alfin adalah sosok yang sering memotivasi saya dan menurut saya adalah seorang cellist muda Indonesia terbaik yang saya kenal.

Mungkin pembaca berpikir “Gimana sih penulisnya nih, malah curhat”. Memang curhat kali ya. Saya malah menceritakan masa lalu saya. Bukannya membahas album i

 

NACHTMUSIK

 

Saya ingin Anda tersentil sedikit oleh keunikan dari sang artist, yaitu album cello yang rasanya sangat jarang di Indonesia. Cello mungkin dikenal sebagai alat musik klasik yang biasa dipakai di orkestra. Lagu-lagu yang dimainkan pun kebanyakan merupakan karya-karya dari para komponis Eropa seperti Beethoven, Franz Joseph Haydn, atau yang lainnya. Tapi alunan dalam Nachtmusik ini akan sangat berbeda, dan Alfian Emir Adytia berhasil memperlihatkan itu.

Mungkin kita bingung pertama kali dengar kata ini. Nachtmusik. Bacanya aja sudah susah. Bisa saja seseorang berpikiran Nacht terkait-kait dengan ejaan Nas juga di makanan lebaran Nastar, Nachtar. Agak-agak mirip sih kalo menurut saya. Sedangkan ini Nachtmusik. Makanan apalagi nih? Saya taunya Nachtar (Nastar). Yang isinya selai nanas itu lho.

Nachtmusik adalah bahasa Jerman yang artinya musik malam. Biasanya, nachtmusik menceritakan kegiatan-kegiatan dari senja hingga menyambut datangnya fajar. Namun dalam komposisi ini, Alfian berhasil menunjukan keunikannya. Ia ingin membawa pendengar album ini pada kegiatan malam sebagian kecil masyarakat Indonesia dengan cellonya.

Cover album Nachtmusik ini memiliki desain yang cukup menarik. Karya visual oleh Raudhul Rizky ini didominasi oleh warna hitam, biru gelap, kuning, gambar-gambar awan dan tak lupa ada bulan di kiri atas. Terakhir tidak lupa dengan tulisan Nachtmusik yang menutupi awan-awan tersebut. Desainnya begitu simple dan ringan, tidak seperti lukisan-lukisan abstrak yang kira-kira makna gambarnya tersirat. Ibaratnya tidak seperti lukisan yang menggambarkan seorang wanita tapi gambarnya blaur-blaur, desain Nachtmusik ini sederhana. Garis-garis yang digunakan begitu jelas, dengan awan-awan dan bulan yang seperti itu serta bintang-bintang sebagai pemanis. Rasanya orang-orang bisa langsung menangkap bahwa ini bukan sesuatu yang serius banget, dan dapat langsung memahami bahwa ini tentang malam. Nachtmusik hanyalah sebuah sajian hiburan malam hari yang sederhana untuk kita semua. Kita hanya perlu menikmatinya.

Saya bisa menangkap bahwa it’s about music and it’s about night. But is it about cello? Album ini sangat bagus, dengan Cello sebagai pemeran utama. Kita bisa mengenal instrumen cello melalui album ini. Mengingat Indonesia, khususnya Bantul sekitarnya masih banyak yang belum mengenal cello. Jika masyarakat sekitar mengenal cello, mungkin bisa menjadi menu tambahan sebagai alat musik hiburan. Mungkin hal ini juga yang menjadi maksud dari Alfian. Namun, kenapa tidak ada gambar cellonya ya? Jika pada cover diberikan sedikit clue, mungkin bisa membantu kita membayangkan bahwa ini tentang instrumen gesek, fretless, yaitu cello. “Ohh, iki ono gitar gede (cello) ne kae toh”. Atau mungkin bisa ditambahkan gambar wajah atau foto Alfian, sehingga wajah gantengnya bisa membuatu ciwi-ciwi langsung bisa penasaran “Album apa ini? Mas nya ganteng...” Mungkin saja bisa seperti itu.

 

1. Prologue (00:28)

Akor pertama di track ini membuat saya langsung terfokus untuk mendengarkan. Apalagi dengan karakter suara cellonya yang manis-manis gimana gitu. Tempo lambat dengan (teknik memetik senar pada instrumen gesek) di cello 3 dan 4 berhasil mencuri perhatian dan membuat saya penasaran dengan suasana malam yang Alfian tawarkan, tenang dan nyaman. Rasanya seakan dibawa ke sebuah café pada malam hari, dengan taman di sebelahnya, lampu-lampu riang, kursi kayu, dan rumput-rumput yang sedikit basah bekas guyuran hujan di sore hari.

Dinamika yang semakin naik pada 10 detik terakhir membuat saya menarik nafas dan menantikan nya. (wilayah nada) yang naik satu oktaf seakan membuat ini semakin memuncak. Hanya tinggal penyelesaian pada dua detik terakhir, tetapi sayang rasanya sungguh “Hah? sudah habis?”. Durasinya yang hanya 28 detik, membuat prologue ini terasa begitu cepat. Namun, namanya juga prologue (pembuka), masa lama-lama. Namun paling tidak dalam prologue ini, ada pengulangan meskipun hanya sekali saja.

 

2. Nocturne (04:31)

Nocturne adalah salah satu jenis di dalam sejarah musik klasik yang sangat populer.Musik nocturne adalah jenis musik yang ditulis untuk persembahan malam hari. Selain nocturne, ada juga yang dinamakan serenade. Perbedaan serenade dan nocturne adalah serenade diperesembahkan pada malam yang tidak malam-malam banget (sekitar jam 9) sedangkan nocturne dipersembahkan pada malam yang sangat larut (sekitar jam 11 ke atas). Nocturne pada album ini sangat berbeda dengan nocturne pada sejarah musik klasik. Jika pada musik klasik nocturne bersifat intim dan romantik, nocturne pada album ini menampilkan melodi yang sederhana di atas irama koplo yang merupakan musik rakyat Indonesia.

 

Pertanyaan saya di track pertama terjawabkan di track kedua ini. Jika memutar track 1 dan langsung ke track 2 ini akan terasa nyambung. Akor terakhir pada prologue ini memang mempersilahkan masuknya nocturne. Kecentilan dari irama awal nocturne akan langsung menggoda anda. Petikan dengan irama koplo membuat suasana terasa santai dan lama-lama membuat saya ingin bergoyang. Pada awalnya saya mendengarkan track saya langsung teringat pada lagu Bunga Citra Lestari, Pernah Muda. Bersamaan dengan masuknya melodi pertama di situ juga saya ingin bernyanyi “bilang papamu....” sungguh irama yang sangat asik dan ringan. Kebanyakan album diisi dengan track awal yang mengebu-gebu, tetapi album ini tidak, Nocturne memiliki warna tersendiri sebagai track awal.

Melodi awal mengalun dengan begitu enaknya. Menyesuaikan akor dan irama, membuat suasana terasa semakin nikmat. Dengan tambahan (nada yang digeser) di beberapa tempat membuat kecentilannya lebih terasa lagi. Terlihat sedikit kenakalan Alfian dalam memainkan melodi, tetapi tetap mempertahankan suasana yang semakin asik.

Ada hentakan-hentakan di beberapa bagian, yang awalnya membuat saya berpikir “”. Setelah kemudian membaca sedikit konten dari track kedua ini ternyata tidak sama sekali. Hentakan-hentakan tersebut ternyata juga merupakan bagian koplo dari lagu ini. Ibaratnya seperti menonton acara sahurbeberapa tahun lalu, ada yang namanya Caesar dengan Suling Saktinya dan di tengah lagu ada “. Maksud hentakan di Nocturne ini, kira-kira mirip seperti itu.

Lagunya sangat enak dan dapat dinikmati dengan baik, hingga di pertengahan lagu ada yang membuat saya terkejut. Melodi yang biasanya sopan-sopan aja masuknya, kali ini terasa main hantam saja. Diawali dengan gesekan dua senar sekali, dan karakter agak kasar dari sebelum melodi masuk. Ibarat beberapa orang yang sedang bersantai, kemudian muncul satu orang lain yang menarik perhatian dan berkata “liat gue nih..” Mungkin ini adalah bagian eksplorasi dari Bang Alfin. Memang semakin ke sana, teknik di bagian melodinya semakin sulit. Saya kemudian berpikir, “emang sengaja pengen ngagetin kayanya nih”.

Setelah melodi yang mungkin agak kasar tersebut, alunan cello kembali ke melodi sebelumnya dengan sangat lembut. Nada yang semakin naik sampe tinggi sekali, sampai nada yang sama pada melodi lanjutannya tetapi pada yang berbeda. Lagu ini terasa semakin memuncak dengan melodi dua suara dengan perbedaan satu oktaf dan tentunya irama yang asik dari awal. Tambahan (nada-nada tinggi, suarnya tipis, bunyinya ) membuat melodi terasa lebih manis. Dan lagi-lagi seperti sebelumnya, diakhiri akor yang agak menggantung.

Secara keseluruhan, lagu ini sangat bagus. Akor yang enak membuat suasana jadi lebih nyaman dan tetap menunjukan koplo Indonesia. Sentilan dalam melodinya membuat saya sangat menyukai ini.

 

3. Nacht Gesang (03:30)

Nacht Gesang adalah bahasa Jerman yang berarti nyanyian malam. Nacht Gesang di album ini memperdengankan kita melodi sederhana yang terinspirasi dari keheningan malam hari di pedesaan tanah Jawa.

Lagu ini diawali petikan cello sebagai iringan. Nada setiap dua ketukan membuat kesan yang perlahan dan mantap. Iringan mengalun dengan trisuara ini sangat enak, sungguh mempersilakan melodi untuk masuk.

Jika tadi pendengar sudah dibawa dengan irama yang asik di track kedua, pada track ketiga ini kesannya lebih damai. Petikan awal dengan nada terendah setiap dua ketukan membuat lagu ini terasa lebih tenang. Melodi masuk dengan sopan. Karakter cello yang sangat muncul dengan tenornya, menyesuaikan karakter iringan yang tenang, seakan bercerita tentang sesuatu. Kemudian pada pengulangan muncul nada panjang akor yang membuat lagu ini semakin nikmat. Melodi berada satu oktaf di atas dari sebelumnya. Permainan dinamika dari volume kecil hingga besar, membawa rasa ini pada sesuatu yang baru.

Semakin memuncak hingga muncul cello yang mulai per dua hingga menjadi Iringan petikan berganti jadi gesekan menambah ramai suasana. Melodi memainkan nada-nada atas dan akor dengan yang hangat., dan rasanya inilah puncak lagu ini.

Akhirnya pelan-pelan dinamika turun, secara perlahan isian nada panjang akor menghilang. Menyisakan melodi dan iringan yang digesek tadi kembali ke petikan layaknya intro di awal, dan ditutup dengan cello.

Dinamika lagu ini dapat dibayangkan seperti proses mendaki gunung yang perlahan naik, memuncak dan turun. Sungguh lagu yang romantis. Mungkin kapan-kapan saya ingin menembak cewek dengan lagu ini.

 

4. Menunggu Kadens (04:33)

Dalam bahasa musik, Kadens berarti penyelesaian. Jika sebuah lagu dimainkan dalam tangga nada C mayor, setelah beberapa kalimat atau birama kita harus membawanya ke akor V (G mayor) untuk kembali ke akor I. Tak hanya melalui akor V, kadens juga bisa melalui akor IV (F mayor).

Track ini membawa kita bereksplorasi “bagaimana rasanya sebuah lagu tanpa Kadens?”. Menunggu Kadens ini adalah musik yang ditulis tanpa kadens. Tanpa alat “penyelesai” yang langsung membawa ke akor satu.

Eksplorasi bunyi juga dilakukan oleh alfian. Lagu diawali dengan petikan atau genjrengan (saya tidak yakin ingin menyebutnya apa), yang berbunyi seperti dipetikan ke senar. Dengan tempo yang agak cepat membuat kesan ini lebih bergerak dibanding sebelumnya. dan akornya menimbulkan kesan yang misterius. Mendengar bagian awal track ini membuat saya berimajinasi seperti sedang berada dalam misi rahasia layaknya James Bond! Motif yang cukup sering diulanglah yang menurut saya kesan menunggu itu muncul. Dan tentu saja juga akornya.

Setelah petikan dengan semacam pick tadi dan melodi satu-dua kalimat,muncul iringan singkupasi yang asik. Ada nada-nada yang digeser dan ketukan yang mirip dangdut pada iringan yang muncul ini.

Di sekitar menit ke 03:10, ada perubahan yang muncul atau mungkin saya ingin menyebut bagian ini . Ada bunyi-bunyi naik turungesekan di dekat , tetapi tidak menghilangkan kesan menunggu dari awal tadi. Lama kelamaan volume semakin keras dan masuklah pada puncak lagu.

Saya tidak bisa berkomentar banyak tentang lagu ini. Tapi eksplorasi bunyi di awal, iringan yang sinkupasi tadi, di tengah, serta kesan yang tidak berakhir juga merupakan sesuatu yang rasanya sangat menarik.

 

5. Patmanamtu (02:24)

Patmanamtu adalah singkatan angka yaitu empat, lima, enam, satu (4-5-6-1). Musik ini terinspirasi oleh ide yang menggunakan materi sesedikit mungkin untuk menghasilkan musik yang utuh, yakni hanya berdasarkan empat akor utama.

Sejak awal mendengarkan musik saya hanya mendengarkan akor nada panjang dan iringan seperenambelasannya (1/16) antara cello 3 dan 4. Hanya kosong saja, tidak ada melodi, sehingga keutuhannya adalah tekstur dari petikan cello 3 dan 4 serta akor dari cello 1 dan 2.

Saya menemukan beberapa titik proposional di iringan 1/16. Terlebih lagi ketika masuk di ketukan tiga birama 8. Ya, memang suara berbalas-balasan antara cello 3 dan 4 menjadi kesulitan tersendiri dalam iringan ini, apalagi model rekaman yang . Akan tetapi pengambilan resiko dengan hasil seperti ini sudah sangat baik.

Terdapat improvisasi di tengah yang maksudnya kurang dapat dipahami, tetapi tetap sangat menarik. ” seakan jadi selingan yang menarik perhatian. Keren. Kesan yang berisik gimana gitu. Di akhir improvisasi Alfian memasukan akor dan menaikan dinamika musiknya. Lalu masuklah pada melodi yang menurut saya inilah bagian puncaknya. Melodi dengan tinggi masuk memimpin musiknya. Kemudian mulai mengalun dengan triol besarnya melawan 1/16 iringan membuat si melodi semakin semeleh. Namun saya sangat menyayangkan melodi ini terasa sangat pendek. Jika diulangi sekali lagi atau satu kalimat mungkin akan terasa lebih puas. Musik ditutup dengan iringan seperti di awal dan juga volume dinamika yang turun secara perlahan.

 

6. Lullaby (02:27)

Lullaby adalah bahasa jerman yang artinya "nina bobo". Lullaby biasanya ditulis untuk anak-anak sebagai pengantar tidur. Sebuah "nina bobo" diharapkan membuat kita bisa merasa tenang dan sejuk sebelum tidur.

Tempo lambat merupakan pilihan yang masuk akal untuk musik ini. Diawali petikan cello dengan nada terendah di setiap dua ketukannya mempersilahkan melodi masuk. Sinkupasinya enak, kesannya semeleh. Pengulangan tema awal dengan oktafnya membuat musik ini tambah enak.

Setelah pengulangan masuklah ke bagian yang ingin saya sebut sebagai , dengan iringan 1/16 dan akor yg enak. Dinamika berada di puncaknya dan melodi dengan nada-nadatinggi memimpin. Alfian seakan berkata sesuatu di sini. Dalam imajinasi saya, jika lagu ini ada liriknya mungkin akan berbunyi "sudah malam, sudah malam, silakan tidur... " di potongan terakhir.

Musik yang enak, harapan alfian memberi rasa sejuk dan tenang tersampaikan. Akor-akornya juga sangat mendukung. Namun sungguh sayang, rasanya track ini pendek sekali. Mungkin lullaby ini memang sengaja dibuat tidak panjang tanpa kita ketahui alasannya. Namun 2 menit dirasa masih kurang untuk menidurkan orang, hehe. Mungkin bisa dibuat lebih panjang sedikit dengan pengulangan atau improvisasi, rasanya akan lebih melegakan. Namun overall, pemilihan ide "nina bobo" sebagai track terakhir album nachtmusik ini oke banget.

 

KESIMPULAN

Munculnya konsep Indonesia dalam album ini sangat menarik mengingat cello yang lazimnya memainkan karya dari barat. Album ini memberikan opsi baru lagi, bahwa ada karya untuk cello dari Indonesia. Dengan hadirnya album ini saya berharap para musisi dapat menonjolkan karya lokal dan juga memotivasi para komponis lainnya untuk berkarya.

Album ini sangat ringan untuk didengarkan. Untuk kalian yang mungkin sehabis kuliah, kegiatan kampus sampe malam atau galau gara-gara si doi bikin sakit hati, pulang-pulang sampe kos gabut. Album ini pas banget buat kalian. Dengan musik-musiknya yang santai dan juga asik, Nachtmusik oke banget buat kita dengarkan pas malam hari khsususnya.